Saturday, April 20, 2013

UN...? Apa kata siswa....?

Ujian Nasional yang menjadi agenda tahunan ternyata disikapi beragam oleh siswa SMKN 1 Paringin. Berikut ini hasil polling kelas XII SMKN 1 Paringin dengan jumlah sampel 45 orang yang dilakukan 1 minggu menjelang UN:
Keberadaan les persiapan UN yang ternyata menurut 42% siswa hanya diyakini 50% akan membantu mereka dalam mempersiapkan diri menghadapi UN. Sementara motivasi mengikuti les sore hari lebih disebabkan karena kesadaran sendiri (67%) dan presensi (27%) dan ternyata sebanyak 38% siswa tidak mengetahui bahwa Les sore hari itu dibiayai penyelenggaraanya oleh pemerintah.
Masalah rutinitas belajar di rumah ternyata 67% siswa mengaku kadang-kadang belajar di rumah dan hanya 9% yang sering belajar. Selain itu 60% siswa meyakini bahwa dirinya akan lulus 100% namun yang mengejutkan bahwa ada 4% yang tidak yakin dirinya akan lulus. Siswa juga cukup khawatir dirinya tidak lulus dan kekhawatiran itu membuat dirinya semangat untuk belajar (40%). Meskipun 73% mereka meyakini hanya belajar dan berdoa yang bisa meluluskannya, namun ternyata 27% juga meyakini ada cara selain belajar dan berdo’a untuk lulus UN.
Sejumlah 20% mengaku akan menjawab ujian dengan usaha sendiri, dan 67% mengupayakan berbagai cara selain belajar. Pengawasan orang tua dalam belajar juga diyakini masih lemah sebab hanya 20% orang tua yang selalu mengingatkan anaknya untuk belajar sementara 58% kadang-kadang dan bahkan 22% tidak pernah mengingatkan sama sekali anak-anak mereka untuk belajar. Saat siswa belajar di rumah pun tidak ada orang tua yang selalu mengawasi dan hanya kadang-kadang diawasi (16%) bahkan 84% orang tua tidak mengawasi anaknya belajar. Namun sikap yang sama dimunculkan oleh orang tua ketika anaknya tidak Lulus UN yaitu sangat sedih (51%) dan sangat marah (29%).
Pada pelaksanaan UN 2013 semua siswa 100% mengetahui bahwa soal yang akan diberikan memiliki banyak tipe. Biasanya menjelang UN banyak rumor atau sms-sms yang berisi ajakan untuk berbuat curang bahkan seringkali ada pihak yang tidak bertanggungjawab mengaku memiliki jawaban soal UN dan sejumlah 62% siswa mengaku pernah mendengarnya serta cerita tersebut mereka ketahui 38% dari alumni SMK namun 73% tidak meyakini cerita/rumor tersebut. Siswa secara umum 71% lebih mengutamakan belajar sendiri untuk menghadapi UN, pengakuan cukup mengejutkan kalau 22% dari mereka tidak hanya belajar namun juga mengandalkan contekan atau berusaha mendapat contekan dari teman-temannya.
Pada segmen akhir polling menanyakan seberapa keyakinan mereka dengan keterampilan yang didapatkan selama belajar di SMK untuk mendapatkan pekerjaan dan hanya 27% yang yakin, sementara 64% kurang yakin dan bahkan 9% tidak yakin bahwa mereka akan mudah mendapat pekerjaan dengan keterampilannya. Siswa juga hanya 9% yang telah menentukan rencananya untuk bekerja dan pekerjaan itu telah menunggunya, sementara 56% ingin bekerja namun bingung bekerja apa dan 27% berencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. 71% siswa juga merasa bahwa apapun pekerjaan yang nantinya mereka dapatkan meskipun tidak sesuai dengan keterampilannya maka akan tetap dijalani dan 29% lebih memilih untuk bertahan sampai menemukan pekerjaan yang tepat.

Resume
Berikut ini resume dari hasil polling di atas:
Ø UN memang telah mengkhawatirkan semua pihak termasuk siswa namun ternyata belajar belum menjadi budaya dalam diri siswa. Sekolah dan keluarga belum berperan optimal untuk mengembangkan budaya belajar yang menyenangkan sehingga belajar menjadi bagian penting dalam diri siswa
Ø Bimbingan Konseling (BK) dan wali kelas harus berperan aktif sebab cukup mengejutkan kalau sebagian besar orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi siswa belajar di rumah. Pendekatan BK dan wali kelas lewat kunjungan ke rumah-rumah siswa secara berkala kiranya menjadi personal approach yang ‘menyegarkan’
Ø Siswa masih mampu memilah fakta dan rumor yang berkembang menjelang UN dan sesungguhnya mereka memiliki niat untuk belajar hanya kurang bertekad kuat untuk jujur. Peran guru sedari dini adalah berlaku jujur dalam menilai dan menanamkan siswa untuk berusaha serta bangga atas hasil jerih payahnya.
Semua pihak harus mulai membiasakan untuk berdialog secara intensif hal yang berkaitan dengan apa yang siswa rasakan, pandangan mereka dan langkah yang mungkin akan diambilnya. Guru sejatinya tidak hanya berkutat dengan persoalan akademis namun lakukan dialog, jadikan siswa sebagai teman, temukan ketulusan dalam diri mereka dan anggap mengajar mereka seperti mengajar anak kita sendiri.
so its on your hands now..... J (by sya)

Monday, April 8, 2013

Ceramah....? Cius...?

-->
Menjadi guru memang tidak mudah, sebab seringkali dihadapkan pada karakter peserta didik yang beraneka ragam. Beban itu tambah besar, sebab typical masyarakat modern cenderung menyerahkan pendidikan anak pada guru dan mulai mengabaikan pendidikan dasar yang ada di rumah. Namun besarnya tanggungjawab tersebut tidak harus dijawab dengan sikap yang pesimis.
Berbagai terobosan metode pembelajaran terus dirintis dan diujicoba mulai model konvensional sampai modern dengan melibatkan kemajuan teknologi. Seorang guru besar bidang teknologi pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta pernah berkata bahwa “semakin guru ingin mengajar dengan baik maka sesungguhnya dia telah memiliki keyakinan akan keberhasilan siswanya. Namun seringkali melupakan hal yang paling dasar yaitu komunikasi dengan siswa. Metode ceramah tidaklah buruk namun seiring kemajuan zaman maka metode itu perlu dimodifikasi dengan berbagai media yang menggugah dan memotivasi siswa untuk belajar.”
Menurut Ahmad Sudrajat, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ceramah sebagai salah satu metode pembelajaran berpusat pada kemampuan guru berkomunikasi dengan siswa. Namun sangat keliru jika ceramah mendominasi seluruh proses pembelajaran sebab ceramah hanya bisa menyampaikan materi secara abstrak pada siswa. Disisi lainnya seringkali ceramah dianggap ‘jadul’ sehingga ditinggalkan bahkan ‘diharamkan’ padahal sejatinya ceramah menjiwai seluruh metode pembelajaran. Oleh karena itu kombinasi ceramah dengan metode lainnya sangat dianjurkan agar tercipta pembelajaran yang efektif dan efisien.

Jika ceramah sangat dominan....?
Ø Siswa mencari cara untuk melepaskan diri seperti ke kamar kecil sembari mampir ke warung untuk “menyegarkan otak”
Ø Siswa dianggap tidak perhatian sebab tertidur dipojok kelas akibat ceramah guru seperti “nyanyian ditelinga siswa”
Ø Siswa bolos pada jam terakhir akibat dirinya hapal bahwa yang mengajar akan “bercuap ria” di depan kelas
Ø Siswa memilih bungkam seribu basa meskipun sang guru coba demokratis bertanya ke siswa apakah mereka paham dengan apa yang telah dijelaskan. Sebab tidak jarang sang guru malah marah saat ditanya dan meminta siswa membaca lagi pada “buku sakti”
Ø Seringkali guru telah kehabisan akal sehingga “bersikap cuek dan tetap melanjutkan konsernya” di depan kelas dengan mengabaikan kegaduhan yang dibuat siswa
Ø Siswa “pasrah” sebab biasanya diujung ceramah akan diakhiri dengan mencatat atau mengerjakan tugas yang diberikan sang guru lewat “buku sakti” dan meninggalkan mereka dalam kebingungan di kelas sementara sang guru asik mengistirahatkan dirinya di kantor.
Ø Dan masih banyak lagi J

Solusinya...?
Cobalah memodifikasi ceramah dengan berbagai metode lainnya seperti:
Ø Dekatkan siswa pada kondisi yang senyaman mungkin dengan pola belajarnya lewat memindahkan belajar siswa di ruang terbuka (out door) seperti di bawah pohon atau lingkungan lain yang kondusif sekitar sekolah sesuai materi yang disampaikan.
Ø Mengkombinasi ceramah dengan model observasi atau peliputan seperti mengajak siswa melakukan kunjungan di luar sekolah. Lokasi observasi tentu saja harus relevan dengan materi yang disampaikan dan hasil observasi atau peliputan tersebut akan dipresentasikan siswa di depan kelas.
Ø Menyisipkan game atau cerita humor yang materinya sangat mudah untuk diunduh lewat ‘mbah google’ sehingga saat jeda (interlude) siswa disegarkan dengan materi diluar pelajaran.
Ø Membawa alat peraga seperti gambar, flowchart, atau menyajikan materi lewat bantuan LCD proyektor
Ø Jika memungkinkan maka mata pelajaran yang memiliki jam pelajaran cukup panjang bisa ‘lebih longgar’ dengan memberikan siswa jam ekstra istirahat demi ‘penyegaran’
Semua orang memang tidak sempurna namun kembalikan pada sejarah bahwa seorang guru dulunya adalah siswa dan lewat empati tersebut maka dirinya akan turut merasakan ‘ketidaknyamanan’ yang terjadi. Selain itu kita mesti ingat bahwa tidak semua siswa berani menyuarakan ‘ketidaknyamanan’ yang mereka rasakan. Sejatinya mendidik adalah seperti bercocok tanam yang akan kita panen hasilnya kelak di akherat nanti.
so its on your hands now..... J (by sya)

Mencari Alasan

-->
Akhir-akhir ini kita seringkali mendengar bahwa pendidikan di Indonesia hanya mencetak lulusan yang mampu secara akademis namun mengabaikan pembentukan moral siswa. Berbicara moral maka “hati” lah pusatnya. Guru dituntut untuk mengutamakan pendidikan yang berpusat dari “hati”. Apa hubungannya antara moral siswa dengan salah satu kompetensi guru yaitu kompetensi kepribadian?
Pembelajaran yang seutuhnya adalah kegiatan yang melibatkan hati pada setiap prosesnya. Kompetensi kepribadian guru yang unggul akan memberi contoh dan teladan bagi siswanya. Oleh karena itu sangat erat kaitannya antara moral peserta didik dengan kepribadian guru sebab keduanya berpusat dari “hati”. Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat dalam Syah (2000:225-226)  menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi siswanya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan siswanya yang sedang mengalami kegoncangan jiwa. Karakteristik kepribadian guru meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis.
Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Sementara keterbukaan secara psikologis adalah kemampuan guru untuk mendekatkan diri dengan siswanya secara psikologis. Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan dalam menghadapi berbagai perilaku siswanya. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi kepribadian/personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang mantap sehingga menjadi sumber inspirasi bagi subyek didik, dan patut diteladani oleh siswa.

Bagaimana realitanya....?
Masih jamak ditemukan perilaku anomali guru yang tercermin pada sikap dan tindakan serta jauh dari keteladan, yang diantaranya:
Ø Bagaimana mungkin meminta siswa berdisiplin jika guru seringkali meracau dalam “tindakan indisipliner” seperti berdalih kesibukan sehingga terlambat mengajar, meninggalkan kewajiban mengajar tanpa tugas untuk siswa, dan kalaupun ada tugas maka hasilnya tidak dikoreksi serta dikembalikan pada siswa.
Ø Sungguh sulit dijalankan untuk meminta siswa untuk membaca/mengulang pelajaran di rumah jika guru hanya menyiapkan diri beberapa saat sebelum mengajar/bahkan hanya mengandalkan “buku sakti” yang menjadi Kitab Suci berwujud “Lembar Kerja Siswa (LKS)” yang bahkan buku itu sendiri telah dilengkapi kunci guna mempermudah guru dan merepotkan siswa J.
Ø Apa mungkin mengajarkan siswa mandiri jika guru sendiri “malas” mengulang pembelajaran yang telah diberikan/bahkan tidak menyiapkan perangkat penting pembelajaran dengan dalih sudah ada di LKS yang semuanya itu selayaknya dipersiapkan secara mandiri oleh guru.
Ø Sulit dibayangkan jika guru “memaksa” siswa tekun mendengarkan dirinya ceramah di depan kelas dengan materi yang telah ada di LKS (text book) tanpa pengembangan yang relevan dengan kehidupan sehari-harinya
Ø Tidak mudah bagi siswa untuk memahami guru yang memberi nilai tanpa kejelasan aturan main bahkan nilai muncul “simsalabim” di lembar rapor atau menjelang pembagian rapor siswa mulai disibukkan dengan “remedial tiada akhir”
Ø Terasa ambigu ketika siswa dilarang berbuat curang sementara guru seringkali “mencurangi” siswa dalam hak mereka untuk dinilai secara layak dan lebih manusiawi serta bukan hanya berpusat pada kemampuan tertulisnya.
Ø Agak janggal bagi siswa saat guru disibukkan dengan kegiatan luar sekolah seperti ‘pelatihan tanpa ujung’ atau kegiatan lain yang kadang tidak sesuai kompetensinya dan meninggalkan pendampingan siswa dalam belajar di sekolah.
Ø Terasa goncang dalam pikiran siswa ketika mereka diwajibkan untuk upacara tiap senin sebagai bentuk kecintaan pada tanah air dan bangsa sementara guru dengan mudah dan “melenggang santai” datang terlambat atau bahkan tidak mengikuti upacara dengan berbagai alasan.
Masih banyak lagi perilaku dan sikap yang tidak bersumber dari “hati” dan kesemuanya itu terpampang jelas “tanpa malu” pada proses pembelajaran di sekolah.

Solusinya...?
Mulailah berpikir bahwa guru sebelumnya merasakan menjadi siswa, dan ketika dirinya menjadi siswa maka diapun tidak menyukai berbagai perilaku dan sikap yang telah dicontohkan gurunya seperti di atas. Atau yang paling sederhana adalah guru juga sebagian besar memiliki anak dan ketika anaknya dididik oleh guru dengan perilaku tersebut, apa yang dipikirkan oleh dirinya....?
so its on your hands now..... J (by sya)

Saturday, March 9, 2013

Keliru atau Tidak Tahu

Dalam perencanaan pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak bulan Tahun Pelajaran 2013-2014 maka Kurikulum yang berlaku sekarang ini di seluruh tingkat satuan pendidikan akan berganti dari KTSP menjadi Kurikulum 2013. Revisi terbaru Kurikulum 2013 bulan Pebruari telah terjadi perubahan dari rencana awal khususnya pada Struktur Kurikulum. Beberapa mata pelajaran mengalami perubahan, ada yang kembali masuk seperti kewirausahaan, namun lebih banyak mapel yang berubah alokasi jam strukturnya, seperti PPKn yang  tidak diajarkan pada kelas XII namun jumlah jam strukturnya bertambah dari 2 menjadi 3. Pada mapel produktif terjadi penurunan jumlah jam strukur hanya 8 + 2 yaitu 8 jam untuk kompetensi kejuruan dan 2 jam untuk kompetensi penunjang.
Kondisi struktur kurikulum yang masih sangat dimungkinkan berubah tentu saja membawa dampak yang signifikan pada guru. Guru mulai menghitung jumlah jam mengajar pada mapel yang diampunya. Sementara pihak sekolah juga mengantisipasi kondisi ini dengan membuat simulasi pembagian jam mengajar menyesuaikan struktur kurikulum 2013. Sorotan kita kali ini bukan pada mata pelajaran yang ‘masuk’ atau ‘hilang’ namun lebih pada cara pandang kita terhadap jam yang ada pada struktur kurikulum. Penulis yakin bahwa sebagian besar guru meyakini bahwa jam yang tertera pada struktur kurikulum adalah jam belajar di sekolah dengan alokasi 1 jam pelajaran setara dengan 45 menit untuk SMK. Namun itu sesungguhnya ‘KELIRU’ atau mungkin ‘TIDAK TAHU’
Jam yang tertera pada struktur kurikulum bukanlah jam belajar real yang ada pada jadual pelajaran di sekolah. Jika para guru masih ingat maka silakan kembali dibuka silabus yang telah dibuat (warisan KTSP). Pada silabus terdapat kolom alokasi waktu yang terbagi atas 3 lajur yaitu: 1) Tatap Muka (TM), 2) Praktik Sekolah (PS), dan 3) Praktik Industri (PI). Khusus SMK maka alokasi waktu Tatap Muka (TM) setara dengan 45 menit, Praktik Sekolah (PS) setara dengan 2x45 menit (2xTM) dan Praktik Industri (PI) setara dengan 4x45 menit (4xTM). Perhatikan contoh berikut ini:

Mapel
Kompetensi Dasar
Alokasi Waktu
TM
PS
PI
A
XYZ
2
4(8)
4(16)

Pada tabel di atas terlihat bahwa KD XYZ didistribusikan dalam bentuk TM 2x45 menit, PS 8x45 menit dan PI 16x45 menit. Lalu bagaimana dengan jam yang tertera pada Struktur Kurikulum? Khusus untuk MAPEL A yang memiliki KD XYZ dengan distribusi jam seperti di atas maka jam yang tertera pada struktur kurikulumnya adalah 2 TM + 4 PS + 4 PI = 10

Perhatikan KEKELIRUAN nya.....!
MAPEL A dengan KD XYZ memiliki 10 jam struktur dengan distribusi 2 TM + 4 PS + 4 PI setara dengan (2x45) + (8x45) + (16x45) = (26x45 menit). Jelas KELIRU jika MAPEL A dengan KD XYZ memiliki 10 jam struktur diartikan 10x45 menit.
Oleh karena itu jika jam struktur mapel produktif pada kurikulum 2013 yang berjumlah 10 diartikan sebagai 10x45 menit sesuai jam pada jadual pelajaran maka sama saja mengasumsikan bahwa seluruh mapel produktif pada level itu diajarkan dengan Tatap Muka (TM) sebab jika Praktik Sekolah (PS) masuk dalam jam tersebut maka jumlah jam strukturnya akan berkurang. Jika mapel produktif didistribusikan semuanya untuk praktikum sekolah maka jumlah jam pada struktur kurikulum 2013 adalah SEBESAR 10/2 = 5 JAM dan BUKAN 10 JAM. Perlu diingat bahwa Praktik Industri (PI) dapat diabaikan dalam perhitungan jam pada jadual pelajaran sebab PI memiliki alokasi waktu khusus.
Kekeliruan ini biasanya menemukan alasan yang tepat sebab jika sekolah menginterpretasikan jam struktur secara benar maka jumlah jam belajar di sekolah akan bertambah. Namun apapun alasannya maka KEKELIRUAN ini mestinya MURNI KEKELIRUAN atau KETIDAKTAHUAN.

Salah satu Solusi
1.        Hitung ulang jumlah jam belajar tiap tingkat dalam satu minggu. Contoh 50 JP/Minggu
2.       Hitung ulang alokasi waktu belajar real sesuai jadual untuk semua mapel dengan patokan maksimal 50 JP
3.       Jangan lupa 1 JP untuk Upacara Bendera Senin
4.      Baca Tulis Al Qur’an yang menjadi bagian Mulok selayaknya dipertimbangkan, sebab Mulok tidak spesifik ada dalam Struktur Kurikulum 2013 yang berarti ‘gugur’ pula kewajiban sekolah untuk memasukkan dalam jadual real
5.       Alokasikan JP yang tersisa untuk Mapel yang memiliki muatan praktikum lebih banyak sebab disitulah jati diri SMK
6.       BP yang dulunya berada ‘1 atap’ dengan BTA sangat dimungkinkan untuk terintegrasi dalam jam pelajaran produktif
Alokasi 36 Jam Produktif pada struktur kurikulum untuk semester 5 dan 6 dirasa belum bisa dijadikan patokan sebab penumpukan materi di tingkat akhir sangat beresiko ditambah lagi polemik UN yang belum dipecahkan dalam Kurikulum 2013.

so its on your hands now..... J (by sya)

Saturday, April 20, 2013

UN...? Apa kata siswa....?

Ujian Nasional yang menjadi agenda tahunan ternyata disikapi beragam oleh siswa SMKN 1 Paringin. Berikut ini hasil polling kelas XII SMKN 1 Paringin dengan jumlah sampel 45 orang yang dilakukan 1 minggu menjelang UN:
Keberadaan les persiapan UN yang ternyata menurut 42% siswa hanya diyakini 50% akan membantu mereka dalam mempersiapkan diri menghadapi UN. Sementara motivasi mengikuti les sore hari lebih disebabkan karena kesadaran sendiri (67%) dan presensi (27%) dan ternyata sebanyak 38% siswa tidak mengetahui bahwa Les sore hari itu dibiayai penyelenggaraanya oleh pemerintah.
Masalah rutinitas belajar di rumah ternyata 67% siswa mengaku kadang-kadang belajar di rumah dan hanya 9% yang sering belajar. Selain itu 60% siswa meyakini bahwa dirinya akan lulus 100% namun yang mengejutkan bahwa ada 4% yang tidak yakin dirinya akan lulus. Siswa juga cukup khawatir dirinya tidak lulus dan kekhawatiran itu membuat dirinya semangat untuk belajar (40%). Meskipun 73% mereka meyakini hanya belajar dan berdoa yang bisa meluluskannya, namun ternyata 27% juga meyakini ada cara selain belajar dan berdo’a untuk lulus UN.
Sejumlah 20% mengaku akan menjawab ujian dengan usaha sendiri, dan 67% mengupayakan berbagai cara selain belajar. Pengawasan orang tua dalam belajar juga diyakini masih lemah sebab hanya 20% orang tua yang selalu mengingatkan anaknya untuk belajar sementara 58% kadang-kadang dan bahkan 22% tidak pernah mengingatkan sama sekali anak-anak mereka untuk belajar. Saat siswa belajar di rumah pun tidak ada orang tua yang selalu mengawasi dan hanya kadang-kadang diawasi (16%) bahkan 84% orang tua tidak mengawasi anaknya belajar. Namun sikap yang sama dimunculkan oleh orang tua ketika anaknya tidak Lulus UN yaitu sangat sedih (51%) dan sangat marah (29%).
Pada pelaksanaan UN 2013 semua siswa 100% mengetahui bahwa soal yang akan diberikan memiliki banyak tipe. Biasanya menjelang UN banyak rumor atau sms-sms yang berisi ajakan untuk berbuat curang bahkan seringkali ada pihak yang tidak bertanggungjawab mengaku memiliki jawaban soal UN dan sejumlah 62% siswa mengaku pernah mendengarnya serta cerita tersebut mereka ketahui 38% dari alumni SMK namun 73% tidak meyakini cerita/rumor tersebut. Siswa secara umum 71% lebih mengutamakan belajar sendiri untuk menghadapi UN, pengakuan cukup mengejutkan kalau 22% dari mereka tidak hanya belajar namun juga mengandalkan contekan atau berusaha mendapat contekan dari teman-temannya.
Pada segmen akhir polling menanyakan seberapa keyakinan mereka dengan keterampilan yang didapatkan selama belajar di SMK untuk mendapatkan pekerjaan dan hanya 27% yang yakin, sementara 64% kurang yakin dan bahkan 9% tidak yakin bahwa mereka akan mudah mendapat pekerjaan dengan keterampilannya. Siswa juga hanya 9% yang telah menentukan rencananya untuk bekerja dan pekerjaan itu telah menunggunya, sementara 56% ingin bekerja namun bingung bekerja apa dan 27% berencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. 71% siswa juga merasa bahwa apapun pekerjaan yang nantinya mereka dapatkan meskipun tidak sesuai dengan keterampilannya maka akan tetap dijalani dan 29% lebih memilih untuk bertahan sampai menemukan pekerjaan yang tepat.

Resume
Berikut ini resume dari hasil polling di atas:
Ø UN memang telah mengkhawatirkan semua pihak termasuk siswa namun ternyata belajar belum menjadi budaya dalam diri siswa. Sekolah dan keluarga belum berperan optimal untuk mengembangkan budaya belajar yang menyenangkan sehingga belajar menjadi bagian penting dalam diri siswa
Ø Bimbingan Konseling (BK) dan wali kelas harus berperan aktif sebab cukup mengejutkan kalau sebagian besar orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi siswa belajar di rumah. Pendekatan BK dan wali kelas lewat kunjungan ke rumah-rumah siswa secara berkala kiranya menjadi personal approach yang ‘menyegarkan’
Ø Siswa masih mampu memilah fakta dan rumor yang berkembang menjelang UN dan sesungguhnya mereka memiliki niat untuk belajar hanya kurang bertekad kuat untuk jujur. Peran guru sedari dini adalah berlaku jujur dalam menilai dan menanamkan siswa untuk berusaha serta bangga atas hasil jerih payahnya.
Semua pihak harus mulai membiasakan untuk berdialog secara intensif hal yang berkaitan dengan apa yang siswa rasakan, pandangan mereka dan langkah yang mungkin akan diambilnya. Guru sejatinya tidak hanya berkutat dengan persoalan akademis namun lakukan dialog, jadikan siswa sebagai teman, temukan ketulusan dalam diri mereka dan anggap mengajar mereka seperti mengajar anak kita sendiri.
so its on your hands now..... J (by sya)

Monday, April 8, 2013

Ceramah....? Cius...?

-->
Menjadi guru memang tidak mudah, sebab seringkali dihadapkan pada karakter peserta didik yang beraneka ragam. Beban itu tambah besar, sebab typical masyarakat modern cenderung menyerahkan pendidikan anak pada guru dan mulai mengabaikan pendidikan dasar yang ada di rumah. Namun besarnya tanggungjawab tersebut tidak harus dijawab dengan sikap yang pesimis.
Berbagai terobosan metode pembelajaran terus dirintis dan diujicoba mulai model konvensional sampai modern dengan melibatkan kemajuan teknologi. Seorang guru besar bidang teknologi pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta pernah berkata bahwa “semakin guru ingin mengajar dengan baik maka sesungguhnya dia telah memiliki keyakinan akan keberhasilan siswanya. Namun seringkali melupakan hal yang paling dasar yaitu komunikasi dengan siswa. Metode ceramah tidaklah buruk namun seiring kemajuan zaman maka metode itu perlu dimodifikasi dengan berbagai media yang menggugah dan memotivasi siswa untuk belajar.”
Menurut Ahmad Sudrajat, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ceramah sebagai salah satu metode pembelajaran berpusat pada kemampuan guru berkomunikasi dengan siswa. Namun sangat keliru jika ceramah mendominasi seluruh proses pembelajaran sebab ceramah hanya bisa menyampaikan materi secara abstrak pada siswa. Disisi lainnya seringkali ceramah dianggap ‘jadul’ sehingga ditinggalkan bahkan ‘diharamkan’ padahal sejatinya ceramah menjiwai seluruh metode pembelajaran. Oleh karena itu kombinasi ceramah dengan metode lainnya sangat dianjurkan agar tercipta pembelajaran yang efektif dan efisien.

Jika ceramah sangat dominan....?
Ø Siswa mencari cara untuk melepaskan diri seperti ke kamar kecil sembari mampir ke warung untuk “menyegarkan otak”
Ø Siswa dianggap tidak perhatian sebab tertidur dipojok kelas akibat ceramah guru seperti “nyanyian ditelinga siswa”
Ø Siswa bolos pada jam terakhir akibat dirinya hapal bahwa yang mengajar akan “bercuap ria” di depan kelas
Ø Siswa memilih bungkam seribu basa meskipun sang guru coba demokratis bertanya ke siswa apakah mereka paham dengan apa yang telah dijelaskan. Sebab tidak jarang sang guru malah marah saat ditanya dan meminta siswa membaca lagi pada “buku sakti”
Ø Seringkali guru telah kehabisan akal sehingga “bersikap cuek dan tetap melanjutkan konsernya” di depan kelas dengan mengabaikan kegaduhan yang dibuat siswa
Ø Siswa “pasrah” sebab biasanya diujung ceramah akan diakhiri dengan mencatat atau mengerjakan tugas yang diberikan sang guru lewat “buku sakti” dan meninggalkan mereka dalam kebingungan di kelas sementara sang guru asik mengistirahatkan dirinya di kantor.
Ø Dan masih banyak lagi J

Solusinya...?
Cobalah memodifikasi ceramah dengan berbagai metode lainnya seperti:
Ø Dekatkan siswa pada kondisi yang senyaman mungkin dengan pola belajarnya lewat memindahkan belajar siswa di ruang terbuka (out door) seperti di bawah pohon atau lingkungan lain yang kondusif sekitar sekolah sesuai materi yang disampaikan.
Ø Mengkombinasi ceramah dengan model observasi atau peliputan seperti mengajak siswa melakukan kunjungan di luar sekolah. Lokasi observasi tentu saja harus relevan dengan materi yang disampaikan dan hasil observasi atau peliputan tersebut akan dipresentasikan siswa di depan kelas.
Ø Menyisipkan game atau cerita humor yang materinya sangat mudah untuk diunduh lewat ‘mbah google’ sehingga saat jeda (interlude) siswa disegarkan dengan materi diluar pelajaran.
Ø Membawa alat peraga seperti gambar, flowchart, atau menyajikan materi lewat bantuan LCD proyektor
Ø Jika memungkinkan maka mata pelajaran yang memiliki jam pelajaran cukup panjang bisa ‘lebih longgar’ dengan memberikan siswa jam ekstra istirahat demi ‘penyegaran’
Semua orang memang tidak sempurna namun kembalikan pada sejarah bahwa seorang guru dulunya adalah siswa dan lewat empati tersebut maka dirinya akan turut merasakan ‘ketidaknyamanan’ yang terjadi. Selain itu kita mesti ingat bahwa tidak semua siswa berani menyuarakan ‘ketidaknyamanan’ yang mereka rasakan. Sejatinya mendidik adalah seperti bercocok tanam yang akan kita panen hasilnya kelak di akherat nanti.
so its on your hands now..... J (by sya)

Mencari Alasan

-->
Akhir-akhir ini kita seringkali mendengar bahwa pendidikan di Indonesia hanya mencetak lulusan yang mampu secara akademis namun mengabaikan pembentukan moral siswa. Berbicara moral maka “hati” lah pusatnya. Guru dituntut untuk mengutamakan pendidikan yang berpusat dari “hati”. Apa hubungannya antara moral siswa dengan salah satu kompetensi guru yaitu kompetensi kepribadian?
Pembelajaran yang seutuhnya adalah kegiatan yang melibatkan hati pada setiap prosesnya. Kompetensi kepribadian guru yang unggul akan memberi contoh dan teladan bagi siswanya. Oleh karena itu sangat erat kaitannya antara moral peserta didik dengan kepribadian guru sebab keduanya berpusat dari “hati”. Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat dalam Syah (2000:225-226)  menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi siswanya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan siswanya yang sedang mengalami kegoncangan jiwa. Karakteristik kepribadian guru meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis.
Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Sementara keterbukaan secara psikologis adalah kemampuan guru untuk mendekatkan diri dengan siswanya secara psikologis. Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan dalam menghadapi berbagai perilaku siswanya. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi kepribadian/personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang mantap sehingga menjadi sumber inspirasi bagi subyek didik, dan patut diteladani oleh siswa.

Bagaimana realitanya....?
Masih jamak ditemukan perilaku anomali guru yang tercermin pada sikap dan tindakan serta jauh dari keteladan, yang diantaranya:
Ø Bagaimana mungkin meminta siswa berdisiplin jika guru seringkali meracau dalam “tindakan indisipliner” seperti berdalih kesibukan sehingga terlambat mengajar, meninggalkan kewajiban mengajar tanpa tugas untuk siswa, dan kalaupun ada tugas maka hasilnya tidak dikoreksi serta dikembalikan pada siswa.
Ø Sungguh sulit dijalankan untuk meminta siswa untuk membaca/mengulang pelajaran di rumah jika guru hanya menyiapkan diri beberapa saat sebelum mengajar/bahkan hanya mengandalkan “buku sakti” yang menjadi Kitab Suci berwujud “Lembar Kerja Siswa (LKS)” yang bahkan buku itu sendiri telah dilengkapi kunci guna mempermudah guru dan merepotkan siswa J.
Ø Apa mungkin mengajarkan siswa mandiri jika guru sendiri “malas” mengulang pembelajaran yang telah diberikan/bahkan tidak menyiapkan perangkat penting pembelajaran dengan dalih sudah ada di LKS yang semuanya itu selayaknya dipersiapkan secara mandiri oleh guru.
Ø Sulit dibayangkan jika guru “memaksa” siswa tekun mendengarkan dirinya ceramah di depan kelas dengan materi yang telah ada di LKS (text book) tanpa pengembangan yang relevan dengan kehidupan sehari-harinya
Ø Tidak mudah bagi siswa untuk memahami guru yang memberi nilai tanpa kejelasan aturan main bahkan nilai muncul “simsalabim” di lembar rapor atau menjelang pembagian rapor siswa mulai disibukkan dengan “remedial tiada akhir”
Ø Terasa ambigu ketika siswa dilarang berbuat curang sementara guru seringkali “mencurangi” siswa dalam hak mereka untuk dinilai secara layak dan lebih manusiawi serta bukan hanya berpusat pada kemampuan tertulisnya.
Ø Agak janggal bagi siswa saat guru disibukkan dengan kegiatan luar sekolah seperti ‘pelatihan tanpa ujung’ atau kegiatan lain yang kadang tidak sesuai kompetensinya dan meninggalkan pendampingan siswa dalam belajar di sekolah.
Ø Terasa goncang dalam pikiran siswa ketika mereka diwajibkan untuk upacara tiap senin sebagai bentuk kecintaan pada tanah air dan bangsa sementara guru dengan mudah dan “melenggang santai” datang terlambat atau bahkan tidak mengikuti upacara dengan berbagai alasan.
Masih banyak lagi perilaku dan sikap yang tidak bersumber dari “hati” dan kesemuanya itu terpampang jelas “tanpa malu” pada proses pembelajaran di sekolah.

Solusinya...?
Mulailah berpikir bahwa guru sebelumnya merasakan menjadi siswa, dan ketika dirinya menjadi siswa maka diapun tidak menyukai berbagai perilaku dan sikap yang telah dicontohkan gurunya seperti di atas. Atau yang paling sederhana adalah guru juga sebagian besar memiliki anak dan ketika anaknya dididik oleh guru dengan perilaku tersebut, apa yang dipikirkan oleh dirinya....?
so its on your hands now..... J (by sya)

Saturday, March 9, 2013

Keliru atau Tidak Tahu

Dalam perencanaan pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak bulan Tahun Pelajaran 2013-2014 maka Kurikulum yang berlaku sekarang ini di seluruh tingkat satuan pendidikan akan berganti dari KTSP menjadi Kurikulum 2013. Revisi terbaru Kurikulum 2013 bulan Pebruari telah terjadi perubahan dari rencana awal khususnya pada Struktur Kurikulum. Beberapa mata pelajaran mengalami perubahan, ada yang kembali masuk seperti kewirausahaan, namun lebih banyak mapel yang berubah alokasi jam strukturnya, seperti PPKn yang  tidak diajarkan pada kelas XII namun jumlah jam strukturnya bertambah dari 2 menjadi 3. Pada mapel produktif terjadi penurunan jumlah jam strukur hanya 8 + 2 yaitu 8 jam untuk kompetensi kejuruan dan 2 jam untuk kompetensi penunjang.
Kondisi struktur kurikulum yang masih sangat dimungkinkan berubah tentu saja membawa dampak yang signifikan pada guru. Guru mulai menghitung jumlah jam mengajar pada mapel yang diampunya. Sementara pihak sekolah juga mengantisipasi kondisi ini dengan membuat simulasi pembagian jam mengajar menyesuaikan struktur kurikulum 2013. Sorotan kita kali ini bukan pada mata pelajaran yang ‘masuk’ atau ‘hilang’ namun lebih pada cara pandang kita terhadap jam yang ada pada struktur kurikulum. Penulis yakin bahwa sebagian besar guru meyakini bahwa jam yang tertera pada struktur kurikulum adalah jam belajar di sekolah dengan alokasi 1 jam pelajaran setara dengan 45 menit untuk SMK. Namun itu sesungguhnya ‘KELIRU’ atau mungkin ‘TIDAK TAHU’
Jam yang tertera pada struktur kurikulum bukanlah jam belajar real yang ada pada jadual pelajaran di sekolah. Jika para guru masih ingat maka silakan kembali dibuka silabus yang telah dibuat (warisan KTSP). Pada silabus terdapat kolom alokasi waktu yang terbagi atas 3 lajur yaitu: 1) Tatap Muka (TM), 2) Praktik Sekolah (PS), dan 3) Praktik Industri (PI). Khusus SMK maka alokasi waktu Tatap Muka (TM) setara dengan 45 menit, Praktik Sekolah (PS) setara dengan 2x45 menit (2xTM) dan Praktik Industri (PI) setara dengan 4x45 menit (4xTM). Perhatikan contoh berikut ini:

Mapel
Kompetensi Dasar
Alokasi Waktu
TM
PS
PI
A
XYZ
2
4(8)
4(16)

Pada tabel di atas terlihat bahwa KD XYZ didistribusikan dalam bentuk TM 2x45 menit, PS 8x45 menit dan PI 16x45 menit. Lalu bagaimana dengan jam yang tertera pada Struktur Kurikulum? Khusus untuk MAPEL A yang memiliki KD XYZ dengan distribusi jam seperti di atas maka jam yang tertera pada struktur kurikulumnya adalah 2 TM + 4 PS + 4 PI = 10

Perhatikan KEKELIRUAN nya.....!
MAPEL A dengan KD XYZ memiliki 10 jam struktur dengan distribusi 2 TM + 4 PS + 4 PI setara dengan (2x45) + (8x45) + (16x45) = (26x45 menit). Jelas KELIRU jika MAPEL A dengan KD XYZ memiliki 10 jam struktur diartikan 10x45 menit.
Oleh karena itu jika jam struktur mapel produktif pada kurikulum 2013 yang berjumlah 10 diartikan sebagai 10x45 menit sesuai jam pada jadual pelajaran maka sama saja mengasumsikan bahwa seluruh mapel produktif pada level itu diajarkan dengan Tatap Muka (TM) sebab jika Praktik Sekolah (PS) masuk dalam jam tersebut maka jumlah jam strukturnya akan berkurang. Jika mapel produktif didistribusikan semuanya untuk praktikum sekolah maka jumlah jam pada struktur kurikulum 2013 adalah SEBESAR 10/2 = 5 JAM dan BUKAN 10 JAM. Perlu diingat bahwa Praktik Industri (PI) dapat diabaikan dalam perhitungan jam pada jadual pelajaran sebab PI memiliki alokasi waktu khusus.
Kekeliruan ini biasanya menemukan alasan yang tepat sebab jika sekolah menginterpretasikan jam struktur secara benar maka jumlah jam belajar di sekolah akan bertambah. Namun apapun alasannya maka KEKELIRUAN ini mestinya MURNI KEKELIRUAN atau KETIDAKTAHUAN.

Salah satu Solusi
1.        Hitung ulang jumlah jam belajar tiap tingkat dalam satu minggu. Contoh 50 JP/Minggu
2.       Hitung ulang alokasi waktu belajar real sesuai jadual untuk semua mapel dengan patokan maksimal 50 JP
3.       Jangan lupa 1 JP untuk Upacara Bendera Senin
4.      Baca Tulis Al Qur’an yang menjadi bagian Mulok selayaknya dipertimbangkan, sebab Mulok tidak spesifik ada dalam Struktur Kurikulum 2013 yang berarti ‘gugur’ pula kewajiban sekolah untuk memasukkan dalam jadual real
5.       Alokasikan JP yang tersisa untuk Mapel yang memiliki muatan praktikum lebih banyak sebab disitulah jati diri SMK
6.       BP yang dulunya berada ‘1 atap’ dengan BTA sangat dimungkinkan untuk terintegrasi dalam jam pelajaran produktif
Alokasi 36 Jam Produktif pada struktur kurikulum untuk semester 5 dan 6 dirasa belum bisa dijadikan patokan sebab penumpukan materi di tingkat akhir sangat beresiko ditambah lagi polemik UN yang belum dipecahkan dalam Kurikulum 2013.

so its on your hands now..... J (by sya)

.