Monday, May 19, 2014

#6 - Sederhanaaaaaaaa

Bahan Diskusi 19 - 24 Mei 2014




……..sederhana artinya bersahaja, tidak berlebih-lebihan……(KBBI)


Seringkali kita mendengar kata sederhana, bahkan hal tersebut jamak disebutkan oleh setiap orang di sekitar kita. Namun apakah konsep hidup sederhana itu semudah kita mengucapkannya?

Sederhana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bersahaja dan tidak berlebih-lebihan. Setiap orang memang tidak dilarang untuk hidup bekecukupan, namun tahukah kalian bahwa cukup itu sangat relatif (tidak memiliki takaran yang baku atau standar bagi setiap orang) berikut ini beberapa kondisi yang seringkali kita temukan di sekitar kita:
a.       Berpakaian tidaklah perlu mahal yang penting bersih dan rapi. Sebagian orang seringkali terkesan untuk berpakaian yang modern sesuai trend namun lupa akan arti bersih dan rapi. Seorang rekan saya pernah berseloroh (bercanda) “….seseorang disebut kaya jika pakaian yang pernah dipakainya tidak akan dipakainya lagi….” Dengan kata lain jika kamu pernah menggunakan pakaianmu lebih dari 1 kali maka kamu katanya TIDAK KAYA. Memang hal tersebut tidaklah menjadi ukuran namun ada yang perlu kita ambil point pentingnya yaitu, hiduplah sederhana
b.       Hidup sederhana juga dicontohkan kepala sekolah kita yang meskipun secara keuangan beliau cukup mampu untuk membeli mobil seperti kebanyakan orang, namun beliau tetap bersahaja dengan sepeda motor tercintanya
c.       Gadget atau benda elektronik seperti HP merupakan benda yang paling cepat mengalami perubahan. Jadi hiduplah sederhana dengan tidak perlu berganti-ganti HP untuk memuaskan diri hanya karena tidak mau ketinggalan zaman. Sungguh ironis HP yang canggih namun ternyata pengggunaannya hanya seputar sms dan telepon yang jika menggunakan HP sederhanapun masih bisa dilakukan
d.       Dan lain-lain

Sekarang bagaimana arti sederhana jika dikaitkan dengan konteks pembelajaran antara guru dan siswa di sekolah? Mari kita cermati berikut ini:
a.       Jadilah siswa yang sederhana dengan berpakaian rapi dan bersih tanpa harus selalu mengikuti trend yang seringkali diluar budaya ketimuran kita.
b.       Jadilah siswa yang sederhana selalu bersahaja dengan tenang mengikuti pelajaran dalam kelas dan mengajukan pertanyaan yang memang tidak dipahaminya
c.       Jadilah siswa yang sederhana dengan memahami kondisi keuangan orang tua sehingga tidak perlu harus memaksa orang tua membelikan HP atau sepeda motor untuk pergi ke sekolah
d.       Jadilah siswa yang sederhana dan bijaksana dalam menggunakan uang saku yang diberikan orang tua untuk kepentingan sekolah
e.       Jadilah siswa yang sederhana dengan tidak pernah melupakan untuk mengucapkan salam atau menunduk saat bertemu dengan yang lebih tua (gurumu)
….seorang siswa saya setiap kali bersamaan menuju sekolah atau sepulang sekolah, dirinya tidak pernah mau mendahului saya meskipun jika mau dia bisa melakukannya, namun dirinya tetap berada di belakang saya…..itulah etika yang kuat tertanam dalam dirinya
f.        Jadilah guru yang sederhana dengan tetap mengajar meskipun memiliki pekerjaan lain yang menyita waktu di sekolah, sebab mengajar adalah kewajiban yang diamanahkan negara bagi seorang guru
g.       Jadilah guru sederhana dengan tidak melebih-lebihkan kemampuan siswa yang memang tidak mampu dalam bentuk penilaian. Sebab jamak ditemukan guru tidak memiliki dasar kuat dalam memberi nilai sehingga nilai yang diberikan hanya menggunakan “feeling” tanpa bukti yang otentik (nyata)
h.       Jadilah guru sederhana yang selalu mengupayakan pembelajaran menyenangkan dan tidak membosankan siswa, sehingga siswa bersemangat dalam mengikuti uraiannya.
i.         Jadilah guru sederhana yang secara periodik meminta masukan akan kekurangannya dalam mengajar dari siswa yang diajarnya atau rekan sejawatnya
j.         Jadilah guru sederhana yang mampu memberikan contoh dan teladan bagi kebersahajaan dengan rajin mengajar, datang tepat waktu dan sabar dalam menerima perbedaan kemampuan siswa
k.       Dan lain-lain

Hidup sederhana memang tidaklah sesederhana mengucapkannya, namun upaya untuk perubahan menuju perbaikan jauh lebih mulia dibandingkan menyerah dan tidak melakukan apapun…. 

Silakan komentari:
a. sudahkah kamu hidup sederhana, beri contohnya
b. sudahkah gurumu mengajarmu dengan cara yg sederhana sehingga mudah kamu mengerti dan kamu sukai teknik menagajrnya, beri contohnya

Tuesday, May 13, 2014

#5 Sapi Ungu

Bahan Diskusi
12 - 17 Mei 2014

……..Pernahkah kamu melihat atau mengetahui sapi ungu……?


Jika ditanya pernahkah kalian melihat sapi? Pasti hampir semuanya pernah melihat sapi bahkan bisa menggambarkan seperti apa sapi tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah apa warna sapi? Mesti jawabannya secara umum berwarna coklat muda dan putih belang hitam. Tapi pernahkah kamu melihat sapi ungu?

Uraian tentang sapi ungu merupakan bagian dari diskusi saya yang menarik dengan guru saya di STM pada perjalanan Banjarmasin ke Jakarta.

Sapi ungu bukanlah sapi yang sesungguhnya namun lebih pada analogi (perumpamaan). Jika sebagian besar sapi berwarna coklat muda-tua atau putih belang hitam, maka sapi ungu tentulah berbeda dari sebagian besar sapi lainnya. Coba dibayangkan pada sebuah kandang sapi yang besar dan semua sapi berwarna coklat muda-tua kecuali satu sapi yang berwarna ungu, maka pastinya sapi tersebut menarik perhatian kita. Artinya sapi ungu BERBEDA dari sapi umumnya. Perbedaan yang taerjadi karena sapi tersebut berwarna ungu. Keunguan sapi tersebut menarik perhatian bahkan keinginan orang untuk mengetahuinya lebih jauh.

Jika dikaitkan dengan pola pembelajaran maka berikut ini analogi sapi coklat muda-tua dalam konteks pembelajaran siswa dan guru
a.       Umumnya siswa bersifat pasif menunggu materi dari guru sehingga aktifitas siswa dalam kelas tergantung dari keaktifan guru
b.       Siswa belajar hanya saat akan ujian atau mengerjakan tugas rumah di sekolah saat pagi hari dengan metode “Mencontek”
c.       Guru umumnya tidak memiliki strategi yang cukup untuk mendorong partisipasi siswa dalam pembelajaran sehingga metode yang biasa digunakan adalah ceramah atau penjelasan materi lewat buku pedoman dan pemberian tugas lewat LKS
d.       Kebersihan lingkungan umumnya diarahkan pada tanggungjawab petugas kebersihan sekolah. Aktifitas siswa dan guru tidak didorong maksimal untuk peduli pada kebersihan lingkungan
e.       Penilaian siswa oleh guru umumnya menjadi hak khusus yang hanya diketahui oleh guru dan siswa hanya mengetahui saat pembagian rapor
f.        Pelanggaran yang terjadi di sekolah umumnya ditindak setengah hati dan lebih pada tataran normatif tanpa mencari sebab utama kenapa hal tersebut terjadi dan mengupayakan tindakan pencegahannya
g.       Dan lain-lain
Itu semua adalah contoh pada umumnya

Bagaimana contoh agar jadi SAPI UNGU (Berbeda)?
a.       Jadi siswa yang aktif, bertanya saat penjelasan guru, gali lebih dalam apakah guru yang mengajar menguasai materi dan cari tahu kenapa materi itu penting untuk diketahui. Yang lebih penting jangan biarkan guru tidak mengajar tanpa alasan yang jelas, siswa wajib melaporkan “SIKAP MALAS GURU” pada guru piket, atau wali kelas dan bahkan bisa langsung ke Kepala Sekolah
b.       Belajar secara rutin minimal 1 jam perhari meskipun bagi sebagian besar siswa belajar sebelum ujian itu “TIDAK KEREN” dan yang keren bagi mereka adalah mendapat nilai tinggi saat ujian tanpa belajar (aneh…!)
c.       Bagi pengajar, ubah metode mengajar yang selama ini lebih dominan ceramah, lakukan pengajaran kontekstual bisa dengan game yang mengaktifkan peran siswa dalam pembelajaran
d.       Bagi pengajar, dorong kuat kebersihan lingkungan kelas/sekolah bahkan jika diperlukan mulai masukkan unsur kebersihan kelas pada penilaian akhir mata pelajaran
e.       Proses penilaian dari pengajar lakukan terbuka, umumkan standar penilaian sebelum pembelajaran dimulai. Ajak siswa berpikir kritis dan logis untuk mewujudkan penilaian sesuai yang mereka inginkan. Beritahu nilai siswa ditiap tugas yang mereka kumpulkan. Bagi guru yang kesulitan dengan komputer maka mestinya mereka masih bisa gunakan kertas dan ditulis manual serta hitung pakai kalkulator (masa itu juga tidak bisa….? J)
f.        Gunakan pendekatan yang lebih personal pada tiap pelanggaran aturan di sekolah. Siswa tidak dijadikan korban, gali masalah yang melatarbelakangi tindakan indisipliner siswa.  Kekuatan koordinasi dan akurasi data diantara wali kelas dan BK menjadi kunci keberhasilan program ini. Jangan biarkan wali kelas dan BK centang perenang dalam menindaklanjuti hal tersebut.  
Jadi mari jadi sapi ungu dalam konteks positif, kenapa tidak…… ? 

Silakan dikomentari berikut ini:
a. Apa yang membuatmu pasif/malas dlm belajar di kelas?
b. Seringkah kamu menemukan pengajar yang senang ceramah di kelas? Apa pendapatmu?
c. Seringkah kamu menemukan pengajar yang tidak transparan/terbuka dalam penilaian?

Monday, May 5, 2014

#4 Kompeten atau Impoten.....?

Bahan diskusi 1 - 10 Mei 2014

……..sangat tidak lucu jika orang yang TIDAK KOMPETEN diplesetkan dengan IMPOTENSI……


Sebagian besar orang memahami bahwa kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu. Sementara dalam dunia pendidikan seseorang dinyatakan kompeten ketika dirinya telah memiliki pengetahuan, sikap dan kemampuan. Dalam bahasa yang sederhana bahwa siswa yang kompeten adalah siswa yang pandai dalam teori, sopan dalam bersikap dan terampil mengerjakan sesuatu. Berarti secara jelas 3 syarat tersebut harus dipenuhi bukan pilihan tapi wajib ketiga-tiganya harus dimiliki oleh seseorang jika ingin disebut kompeten.

Bicara kompetensi mengingatkan pada pertemuan saya dengan guru saya ketika STM (Sekolah Teknologi Kejuruan) dulu. Pembicaraan tersebut sangat menarik meski hanya berlangsung sekitar 45 menit dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Jakarta. Nah yang menarik, beliau menambahkan 2 karakter khusus melekat pada diri seseorang yang kompeten yaitu:
a.       Waktu, dibuktikan dengan kecepatan seseorang dalam melakukan sesuatu
b.       Presisi, yaitu ketepatan dalam melakukan/menghasilkan sesuatu
Sekarang mari kita analisis sederhana:
-          Kata “dan” diantara waktu – presisi berarti keduanya harus dimiliki, bukan pilihan
-          Barang yang dihasilkan sebaik apapun namun dihasilkan dalam waktu yang sangat lama maka tidak memenuhi kriteria kompetensi
-          Barang dihasilkan secepat apapun namun tidak tepat juga tidak memenuhi syarat kompetensi
-          Contohnya: saat kita memesan sesuatu maka yang diharapkan adalah barang yang baik kualitasnya dan memiliki waktu pemenuhan yang cepat (kita tidak perlu menunggu lama)
Jika dikatikan dengan kondisi pembelajaran di sekolah kita bagaimana…..?
a.       Kategori : TIDAK KOMPETEN
Presisi tepat – ketepatan waktu lemah
Seorang guru yang baik cara mengajarnya, menggunakan metode pembelajaran yang menarik namun seringkali terlambat atau bahkan jarang hadir akan membuat motivasi siswa untuk menerima pembelajaran beliau jadi turun bahkan berbalik jadi antipati
b.      Kategori : TIDAK KOMPETEN
Presisi lemah – ketepatan waktu baik
Seorang guru yang rajin dalam mengajar, masuk tepat waktu namun lebih banyak memberi tugas siswa dengan mengandalkan buku panduan atau LKS. Beliau kurang berani mengekplorasi pertanyaan siswa dan lebih banyak dijawab hanya dengan membaca pada buku panduan (LKS)
c.       Kategori : SANGAT TIDAK KOMPETEN
Presisi lemah – ketepatan waktu lemah
Yaitu guru sering terlambat bahkan banyak alasan tidak mengajar, lalai dengan tidak memberi tugas bagi siswa, pengetahuan yang ditransfer ke siswa lebih banyak berasal dari buku panduan (LKS). Penilaian sangat tidak objektif, hanya mengandalkan kedekatan dan sensitif dengan kritikan (mudah tersinggung jika siswa bertanya terlalu kritis tentang materi atau kinerjanya)
d.      Kategori : KOMPETEN
Presisi tepat – waktu tepat
Terjadi jika seorang guru menerapkan metode yang menyenangkan, mudah dipahami siswa saat dirinya menjelaskan materi, memberi penilaian yang objektif, memiliki jawaban yang langsung mengena pada kondisi siswa, sering ditunggu oleh siswa kehadirannya, bahkan siswa merasa ada yang hilang saat beliau tidak mengajar
Memang tidaklah mudah untuk memenuhi kriteri kompetensi yaitu pemenuhan waktu yang baik dan presisi yang tinggi, namun semuanya perlu proses dan proses tersebut harus dimulai dari sekarang. Berikut ini tips bagi pengajar sebagai modal awal untuk bisa mengajar dengan baik:
a.       Punya tekad yang kuat untuk maju
b.       Memiliki motivasi tiap kali mengajar dengan menganggap siswa yang diajarnya adalah bagian dari dirinya
c.       Tidak malu bertanya atau belajar tanpa memandang umur dan jabatan
d.       Konsistensi (ketaatan) pada perubahan untuk perbaikan
Banyak orang yang hanya termotivasi di awal namun lemah di akhir oleh karena itu kunci terakhir adalah konsistensi untuk perubahan terhadap perbaikan. Sangat tidak lucu jika orang yang TIDAK KOMPETEN diplesetkan dengan IMPOTENSI…. J (by sya)

Sekarang silakan beri komentar:
a. pernahkah kamu menemukan pengajar yang sering telat dan kurang menguasai materi (terlihat saat ditanya, hanya mengandalkan buku pedoman), jika ia maka beliau SANGAT TIDAK KOMPETEN
b. pernahkah kamu menemukan pengajar yg terlambat namun memiliki metode mengajar yang baik dan menyenangkan? nah beliau juga masuk kategori TIDAK KOMPETEN
c. pernahkah kamu menemukan pengajar yang mengajar tepat waktu namun kurang menguasai materi? beliau juga termasuk kategori TIDAK KOMPETEN
c. pernahkah kamu menemukan pengajar yang seringkali hadir dan memiliki metode mengajar yang baik dan menyenangkan? Beliau ini dikategorikan KOMPETEN

 

Monday, May 19, 2014

#6 - Sederhanaaaaaaaa

Bahan Diskusi 19 - 24 Mei 2014




……..sederhana artinya bersahaja, tidak berlebih-lebihan……(KBBI)


Seringkali kita mendengar kata sederhana, bahkan hal tersebut jamak disebutkan oleh setiap orang di sekitar kita. Namun apakah konsep hidup sederhana itu semudah kita mengucapkannya?

Sederhana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bersahaja dan tidak berlebih-lebihan. Setiap orang memang tidak dilarang untuk hidup bekecukupan, namun tahukah kalian bahwa cukup itu sangat relatif (tidak memiliki takaran yang baku atau standar bagi setiap orang) berikut ini beberapa kondisi yang seringkali kita temukan di sekitar kita:
a.       Berpakaian tidaklah perlu mahal yang penting bersih dan rapi. Sebagian orang seringkali terkesan untuk berpakaian yang modern sesuai trend namun lupa akan arti bersih dan rapi. Seorang rekan saya pernah berseloroh (bercanda) “….seseorang disebut kaya jika pakaian yang pernah dipakainya tidak akan dipakainya lagi….” Dengan kata lain jika kamu pernah menggunakan pakaianmu lebih dari 1 kali maka kamu katanya TIDAK KAYA. Memang hal tersebut tidaklah menjadi ukuran namun ada yang perlu kita ambil point pentingnya yaitu, hiduplah sederhana
b.       Hidup sederhana juga dicontohkan kepala sekolah kita yang meskipun secara keuangan beliau cukup mampu untuk membeli mobil seperti kebanyakan orang, namun beliau tetap bersahaja dengan sepeda motor tercintanya
c.       Gadget atau benda elektronik seperti HP merupakan benda yang paling cepat mengalami perubahan. Jadi hiduplah sederhana dengan tidak perlu berganti-ganti HP untuk memuaskan diri hanya karena tidak mau ketinggalan zaman. Sungguh ironis HP yang canggih namun ternyata pengggunaannya hanya seputar sms dan telepon yang jika menggunakan HP sederhanapun masih bisa dilakukan
d.       Dan lain-lain

Sekarang bagaimana arti sederhana jika dikaitkan dengan konteks pembelajaran antara guru dan siswa di sekolah? Mari kita cermati berikut ini:
a.       Jadilah siswa yang sederhana dengan berpakaian rapi dan bersih tanpa harus selalu mengikuti trend yang seringkali diluar budaya ketimuran kita.
b.       Jadilah siswa yang sederhana selalu bersahaja dengan tenang mengikuti pelajaran dalam kelas dan mengajukan pertanyaan yang memang tidak dipahaminya
c.       Jadilah siswa yang sederhana dengan memahami kondisi keuangan orang tua sehingga tidak perlu harus memaksa orang tua membelikan HP atau sepeda motor untuk pergi ke sekolah
d.       Jadilah siswa yang sederhana dan bijaksana dalam menggunakan uang saku yang diberikan orang tua untuk kepentingan sekolah
e.       Jadilah siswa yang sederhana dengan tidak pernah melupakan untuk mengucapkan salam atau menunduk saat bertemu dengan yang lebih tua (gurumu)
….seorang siswa saya setiap kali bersamaan menuju sekolah atau sepulang sekolah, dirinya tidak pernah mau mendahului saya meskipun jika mau dia bisa melakukannya, namun dirinya tetap berada di belakang saya…..itulah etika yang kuat tertanam dalam dirinya
f.        Jadilah guru yang sederhana dengan tetap mengajar meskipun memiliki pekerjaan lain yang menyita waktu di sekolah, sebab mengajar adalah kewajiban yang diamanahkan negara bagi seorang guru
g.       Jadilah guru sederhana dengan tidak melebih-lebihkan kemampuan siswa yang memang tidak mampu dalam bentuk penilaian. Sebab jamak ditemukan guru tidak memiliki dasar kuat dalam memberi nilai sehingga nilai yang diberikan hanya menggunakan “feeling” tanpa bukti yang otentik (nyata)
h.       Jadilah guru sederhana yang selalu mengupayakan pembelajaran menyenangkan dan tidak membosankan siswa, sehingga siswa bersemangat dalam mengikuti uraiannya.
i.         Jadilah guru sederhana yang secara periodik meminta masukan akan kekurangannya dalam mengajar dari siswa yang diajarnya atau rekan sejawatnya
j.         Jadilah guru sederhana yang mampu memberikan contoh dan teladan bagi kebersahajaan dengan rajin mengajar, datang tepat waktu dan sabar dalam menerima perbedaan kemampuan siswa
k.       Dan lain-lain

Hidup sederhana memang tidaklah sesederhana mengucapkannya, namun upaya untuk perubahan menuju perbaikan jauh lebih mulia dibandingkan menyerah dan tidak melakukan apapun…. 

Silakan komentari:
a. sudahkah kamu hidup sederhana, beri contohnya
b. sudahkah gurumu mengajarmu dengan cara yg sederhana sehingga mudah kamu mengerti dan kamu sukai teknik menagajrnya, beri contohnya

Tuesday, May 13, 2014

#5 Sapi Ungu

Bahan Diskusi
12 - 17 Mei 2014

……..Pernahkah kamu melihat atau mengetahui sapi ungu……?


Jika ditanya pernahkah kalian melihat sapi? Pasti hampir semuanya pernah melihat sapi bahkan bisa menggambarkan seperti apa sapi tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah apa warna sapi? Mesti jawabannya secara umum berwarna coklat muda dan putih belang hitam. Tapi pernahkah kamu melihat sapi ungu?

Uraian tentang sapi ungu merupakan bagian dari diskusi saya yang menarik dengan guru saya di STM pada perjalanan Banjarmasin ke Jakarta.

Sapi ungu bukanlah sapi yang sesungguhnya namun lebih pada analogi (perumpamaan). Jika sebagian besar sapi berwarna coklat muda-tua atau putih belang hitam, maka sapi ungu tentulah berbeda dari sebagian besar sapi lainnya. Coba dibayangkan pada sebuah kandang sapi yang besar dan semua sapi berwarna coklat muda-tua kecuali satu sapi yang berwarna ungu, maka pastinya sapi tersebut menarik perhatian kita. Artinya sapi ungu BERBEDA dari sapi umumnya. Perbedaan yang taerjadi karena sapi tersebut berwarna ungu. Keunguan sapi tersebut menarik perhatian bahkan keinginan orang untuk mengetahuinya lebih jauh.

Jika dikaitkan dengan pola pembelajaran maka berikut ini analogi sapi coklat muda-tua dalam konteks pembelajaran siswa dan guru
a.       Umumnya siswa bersifat pasif menunggu materi dari guru sehingga aktifitas siswa dalam kelas tergantung dari keaktifan guru
b.       Siswa belajar hanya saat akan ujian atau mengerjakan tugas rumah di sekolah saat pagi hari dengan metode “Mencontek”
c.       Guru umumnya tidak memiliki strategi yang cukup untuk mendorong partisipasi siswa dalam pembelajaran sehingga metode yang biasa digunakan adalah ceramah atau penjelasan materi lewat buku pedoman dan pemberian tugas lewat LKS
d.       Kebersihan lingkungan umumnya diarahkan pada tanggungjawab petugas kebersihan sekolah. Aktifitas siswa dan guru tidak didorong maksimal untuk peduli pada kebersihan lingkungan
e.       Penilaian siswa oleh guru umumnya menjadi hak khusus yang hanya diketahui oleh guru dan siswa hanya mengetahui saat pembagian rapor
f.        Pelanggaran yang terjadi di sekolah umumnya ditindak setengah hati dan lebih pada tataran normatif tanpa mencari sebab utama kenapa hal tersebut terjadi dan mengupayakan tindakan pencegahannya
g.       Dan lain-lain
Itu semua adalah contoh pada umumnya

Bagaimana contoh agar jadi SAPI UNGU (Berbeda)?
a.       Jadi siswa yang aktif, bertanya saat penjelasan guru, gali lebih dalam apakah guru yang mengajar menguasai materi dan cari tahu kenapa materi itu penting untuk diketahui. Yang lebih penting jangan biarkan guru tidak mengajar tanpa alasan yang jelas, siswa wajib melaporkan “SIKAP MALAS GURU” pada guru piket, atau wali kelas dan bahkan bisa langsung ke Kepala Sekolah
b.       Belajar secara rutin minimal 1 jam perhari meskipun bagi sebagian besar siswa belajar sebelum ujian itu “TIDAK KEREN” dan yang keren bagi mereka adalah mendapat nilai tinggi saat ujian tanpa belajar (aneh…!)
c.       Bagi pengajar, ubah metode mengajar yang selama ini lebih dominan ceramah, lakukan pengajaran kontekstual bisa dengan game yang mengaktifkan peran siswa dalam pembelajaran
d.       Bagi pengajar, dorong kuat kebersihan lingkungan kelas/sekolah bahkan jika diperlukan mulai masukkan unsur kebersihan kelas pada penilaian akhir mata pelajaran
e.       Proses penilaian dari pengajar lakukan terbuka, umumkan standar penilaian sebelum pembelajaran dimulai. Ajak siswa berpikir kritis dan logis untuk mewujudkan penilaian sesuai yang mereka inginkan. Beritahu nilai siswa ditiap tugas yang mereka kumpulkan. Bagi guru yang kesulitan dengan komputer maka mestinya mereka masih bisa gunakan kertas dan ditulis manual serta hitung pakai kalkulator (masa itu juga tidak bisa….? J)
f.        Gunakan pendekatan yang lebih personal pada tiap pelanggaran aturan di sekolah. Siswa tidak dijadikan korban, gali masalah yang melatarbelakangi tindakan indisipliner siswa.  Kekuatan koordinasi dan akurasi data diantara wali kelas dan BK menjadi kunci keberhasilan program ini. Jangan biarkan wali kelas dan BK centang perenang dalam menindaklanjuti hal tersebut.  
Jadi mari jadi sapi ungu dalam konteks positif, kenapa tidak…… ? 

Silakan dikomentari berikut ini:
a. Apa yang membuatmu pasif/malas dlm belajar di kelas?
b. Seringkah kamu menemukan pengajar yang senang ceramah di kelas? Apa pendapatmu?
c. Seringkah kamu menemukan pengajar yang tidak transparan/terbuka dalam penilaian?

Monday, May 5, 2014

#4 Kompeten atau Impoten.....?

Bahan diskusi 1 - 10 Mei 2014

……..sangat tidak lucu jika orang yang TIDAK KOMPETEN diplesetkan dengan IMPOTENSI……


Sebagian besar orang memahami bahwa kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu. Sementara dalam dunia pendidikan seseorang dinyatakan kompeten ketika dirinya telah memiliki pengetahuan, sikap dan kemampuan. Dalam bahasa yang sederhana bahwa siswa yang kompeten adalah siswa yang pandai dalam teori, sopan dalam bersikap dan terampil mengerjakan sesuatu. Berarti secara jelas 3 syarat tersebut harus dipenuhi bukan pilihan tapi wajib ketiga-tiganya harus dimiliki oleh seseorang jika ingin disebut kompeten.

Bicara kompetensi mengingatkan pada pertemuan saya dengan guru saya ketika STM (Sekolah Teknologi Kejuruan) dulu. Pembicaraan tersebut sangat menarik meski hanya berlangsung sekitar 45 menit dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Jakarta. Nah yang menarik, beliau menambahkan 2 karakter khusus melekat pada diri seseorang yang kompeten yaitu:
a.       Waktu, dibuktikan dengan kecepatan seseorang dalam melakukan sesuatu
b.       Presisi, yaitu ketepatan dalam melakukan/menghasilkan sesuatu
Sekarang mari kita analisis sederhana:
-          Kata “dan” diantara waktu – presisi berarti keduanya harus dimiliki, bukan pilihan
-          Barang yang dihasilkan sebaik apapun namun dihasilkan dalam waktu yang sangat lama maka tidak memenuhi kriteria kompetensi
-          Barang dihasilkan secepat apapun namun tidak tepat juga tidak memenuhi syarat kompetensi
-          Contohnya: saat kita memesan sesuatu maka yang diharapkan adalah barang yang baik kualitasnya dan memiliki waktu pemenuhan yang cepat (kita tidak perlu menunggu lama)
Jika dikatikan dengan kondisi pembelajaran di sekolah kita bagaimana…..?
a.       Kategori : TIDAK KOMPETEN
Presisi tepat – ketepatan waktu lemah
Seorang guru yang baik cara mengajarnya, menggunakan metode pembelajaran yang menarik namun seringkali terlambat atau bahkan jarang hadir akan membuat motivasi siswa untuk menerima pembelajaran beliau jadi turun bahkan berbalik jadi antipati
b.      Kategori : TIDAK KOMPETEN
Presisi lemah – ketepatan waktu baik
Seorang guru yang rajin dalam mengajar, masuk tepat waktu namun lebih banyak memberi tugas siswa dengan mengandalkan buku panduan atau LKS. Beliau kurang berani mengekplorasi pertanyaan siswa dan lebih banyak dijawab hanya dengan membaca pada buku panduan (LKS)
c.       Kategori : SANGAT TIDAK KOMPETEN
Presisi lemah – ketepatan waktu lemah
Yaitu guru sering terlambat bahkan banyak alasan tidak mengajar, lalai dengan tidak memberi tugas bagi siswa, pengetahuan yang ditransfer ke siswa lebih banyak berasal dari buku panduan (LKS). Penilaian sangat tidak objektif, hanya mengandalkan kedekatan dan sensitif dengan kritikan (mudah tersinggung jika siswa bertanya terlalu kritis tentang materi atau kinerjanya)
d.      Kategori : KOMPETEN
Presisi tepat – waktu tepat
Terjadi jika seorang guru menerapkan metode yang menyenangkan, mudah dipahami siswa saat dirinya menjelaskan materi, memberi penilaian yang objektif, memiliki jawaban yang langsung mengena pada kondisi siswa, sering ditunggu oleh siswa kehadirannya, bahkan siswa merasa ada yang hilang saat beliau tidak mengajar
Memang tidaklah mudah untuk memenuhi kriteri kompetensi yaitu pemenuhan waktu yang baik dan presisi yang tinggi, namun semuanya perlu proses dan proses tersebut harus dimulai dari sekarang. Berikut ini tips bagi pengajar sebagai modal awal untuk bisa mengajar dengan baik:
a.       Punya tekad yang kuat untuk maju
b.       Memiliki motivasi tiap kali mengajar dengan menganggap siswa yang diajarnya adalah bagian dari dirinya
c.       Tidak malu bertanya atau belajar tanpa memandang umur dan jabatan
d.       Konsistensi (ketaatan) pada perubahan untuk perbaikan
Banyak orang yang hanya termotivasi di awal namun lemah di akhir oleh karena itu kunci terakhir adalah konsistensi untuk perubahan terhadap perbaikan. Sangat tidak lucu jika orang yang TIDAK KOMPETEN diplesetkan dengan IMPOTENSI…. J (by sya)

Sekarang silakan beri komentar:
a. pernahkah kamu menemukan pengajar yang sering telat dan kurang menguasai materi (terlihat saat ditanya, hanya mengandalkan buku pedoman), jika ia maka beliau SANGAT TIDAK KOMPETEN
b. pernahkah kamu menemukan pengajar yg terlambat namun memiliki metode mengajar yang baik dan menyenangkan? nah beliau juga masuk kategori TIDAK KOMPETEN
c. pernahkah kamu menemukan pengajar yang mengajar tepat waktu namun kurang menguasai materi? beliau juga termasuk kategori TIDAK KOMPETEN
c. pernahkah kamu menemukan pengajar yang seringkali hadir dan memiliki metode mengajar yang baik dan menyenangkan? Beliau ini dikategorikan KOMPETEN

 

.